Sebelumnya everythin’ is allright, sampai pada suatu siang, di kantor..
Mataku yang tadinya baik-baik saja (walaupun minus 1.5 kiri dan kanan, namun masih bisa melihat dengan normal dengan bantuan kacamata) tiba-tiba tidak berfungsi sebagaimana biasanya. Aku merasa mataku berkunang-kunang, bahkan hampir gelap (seperti pitam). MasyaAllah…Apa gerangan yang terjadi? Hendak menangis, kutenangkan diriku sendiri. Pada saat itu diruangan kantorku tidak ada siapa-siapa, karena memang saat itu sedang istirahat siang. Aku sendiri tidak keluar makan hari itu karena membawa bekal makanan dari rumah. Setengah panik, ku telepon suamiku kuceritakan apa yang terjadi, dan ia menenangkan aku. Aku diminta menunggu beberapa saat sampai mataku menjadi normal kembali, namun jika hal tersebut tidak terjadi ia akan langsung menjemputku (hmhmm…my superhero ^^). Beberapa menit berlalu, hingga kira-kira setengah jam sudah dan mata ini mulai mendapatkan penglihatannya kembali,…syukur Alhamdulillah Ya Allah. Ku telepon kembali suamiku, dan kukatakan kalau mataku sudah mulai bisa melihat walaupun tidak seperti biasanya, karena setiap aku memaksakan melihat terasa pusing dikepalaku. Suamiku menganjurkan untuk ke dokter sore nanti.
Jadilah sore itu kami ke dokter spesialis syaraf yang memang sudah menjadi langgananku, maklum aku juga penderita migraine. Atas dasar migraine inilah aku berfikir bahwa kejadian di kantor tadi ‘bisa jadi’ karena ada sesuatu yang ‘salah’ dengan kepalaku. Sekitar jam 5 sore aku sudah mulai mendaftar dan mengantri, namun hingga selesai magrib barulah tiba giliranku (maklum dokter ini memang dokter favorit, pasiennya selalu ramai).
Dokter bertanya apa masalahku kali ini, dan langsung kuceritakan apa yang menimpaku siang tadi di kantor. Dokter mengatakan kalau aku hanya stress. stress?? Benarkah? Aku diberi vitamin (yang katanya) berfungsi untukmenghilangkan rasa sakit dikepalaku, dengan cara disuntikkan ke lengan, dan masih ditambah dengan bermacam obat dan vitamin minum lainnya. Aku yang sebenarnya tidak begitu yakin dengan perkataan dokter tersebut mulai merasa bingung, ada apa sebenarnya dengan diriku. Lagi-lagi my luphly husband menenangkan, katanya “InsyaAllah semua’a akan baik-baik saja, kita lihat lagi perkembangannya besok.” Besok memang aku harus kembali lagi karena Dokter menganjurkan untuk melakukan cek kembali. Hmm..baiklah, aku akan mencoba dulu melihat perkembangannya.
Lewat sehari sudah, tapi tanda-tanda bahwa aku semakin membaik belum juga kelihatan. Mataku masih sama seperti kemarin, masih kurang jelas, malah sekarang ditambah dengan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi. Sore itu aku kembali lagi ke Dokter, Kali ini dokter bertanya tentang perkembanganku. Masih sama seperti kemarin jawabku, bahkan sekarang ditambah rasa pusing yang menjadi-jadi. Seperti kemarin, hanya pemeriksaan-pemeriksaan general seperti cek tensi darah dan pengukuran suhu tubuh yang dilakukan. Dan (lagi-lagi) aku hanya disuntik serta dianjurkan melanjutkan obat-obat yang kemarin diberinya. Pulang, aku berfikir apakah sesederhana itu mendiagnosa penyakit seseorang? Apakah semudah itu?
Gamang…Hari ketiga sudah dan aku semakin lemah. Mata ini semakin sakit, malah sekarang warnanya MasyaAllah merahnya, ditambah lagi dengan tangan dan kaki yang mulai suka gemetaran (tremor).. Cobaan apalagi dari-Mu ya Rabb..tapi aku harus kuat. Hari itu juga aku kembali ke dokter yang sama dan demi melihat kondisiku dia langsung mengkonsulkan aku ke dokter spesialis mata. Tidak lama menunggu aku sudah dipanggil masuk ke ruang dokter mata tersebut. Aku menjalani serangkaian tes mata, dan ternyata hasilnya minus mataku bertambah begitu tinggi hanya dalam waktu 2 bulan saja (ya.. karena 2 bulan yang lalu aku baru saja mengganti ukuran lensa kacamataku ini). Ukuran mataku bertambah dari minus 1,5 menjadi minus 3 ditambah silindris ¾ hanya dalam jangka waktu 2 bulan saja. Pantas saja kacamata ini terasa begitu tidak nyaman. Yang lebih mengejutkan lagi adalah begitu sang dokter mengatakan kalau pupil mataku yang sebelah kanan sedikit lebih besar ukurannya dari yang kiri, wah ada apalagi ini? Ternyata Dokter curiga kalau aku mengalami gangguan fungsi Tiroid (Terus terang aku baru mendengar istilah ini). Dokter menganjurkan cek darah dan mengatakan ia curiga bahwa peningkatan minus dimataku yang begitu cepat ini dikarenakan kelainan kelenjar tiroid. Selain itu, tanda-tanda gemetaran dan jantung yang sering berdebar kencang semakin memperkuat dugaan sang Dokter.
Pagi keesokan harinya, aku melakukan tes darah. Setengah tidak sabar untuk mengetahui hasil apa yang kuperoleh nanti aku langsung datang ke lab pemeriksaan sore harinya untuk mengambil hasil. Tapi ternyata aku harus bersabar hingga 3 hari, karena untuk pemeriksaan T3, T4 dan TsHs (semua komponen pemeriksaan laboratorium untuk tiroid) belum ada di kotaku –Banda Aceh-. Sampel darahku harus dikirim ke Medan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hmm.. 3 hari yang mendebarkan buatku.
Selama hari-hari penantianku, ku coba browsing sana sini tentang apa tiroid itu sebenarnya. Cukup banyak penjelasan yang ku dapatkan, salah satu point penting yang terus melekat di fikiranku adalah bahwa tiroid bukanlah sekedar bengkak pada leher seperti penyakit gondok pada umumnya. kelenjar Tiroid itu sendiri adalah kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan hormon tiroid (T3 dan T4) yang berfungsi untuk mengawal metabolisme (pengeluaran tenaga) manusia. Setelah membaca satupersatu tanda-tanda atau gejala yang dialami oleh penderita penyakit ini, ada beberapa tanda yang selama ini sering aku alami tetapi aku tidak menyadari kalau itu adalah tanda-tanda dari penyakit tiroid itu sendiri, seperti diare, jantung berdebar-debar, gemetar (tremor) dan gelisah, mata menjadi besar (bulging), angin yang tidak menentu, keringat bertambah, suhu badan naik, tidak tahan panas, rambut rontok, sukar bernafas (sebelumnya untuk yang satu ini aku bahkan pernah sampai harus diopname karena tiba-tiba mengalami sesak nafas, dan waktu itu dokter mengatakan kalau aku alergi), sukar tidur, turun berat badan (aku kehilangan berat badan sampai hampir 10 kilo), dan lemah. Itu semua yang kurasakan, banyak memang. Semakin kuat dugaan bahwa kemungkinan besar aku memang mengidap tiroid. Tapi sebelum hasil berada ditanganku, semua belum bisa dipastikan.
Tiba juga hari pengambilan hasil pemeriksaan labku. Sekitar jam 10 pagi aku bergegas ke laboratorium dan tak lama kemudian hasil sudah berada ditanganku. Setengah bingung melihat apa maksud dari angka-angka yang tertera di atas kertas, yang ku pahami hanyalah bahwa semua angka hasil uji labku berada di luar batas normal, semuanya tinggi, dan berarti memang ada sesuatu yang salah dengan fungsi kelenjar tiroidku. Resepsionis di laboratorium juga tidak dapat menjelaskan secara detail, dan dia menyarankan aku untuk berkonsultasi lagi ke dokter.
Kembali lagi ke dokter sore itu juga. Dokter menjelaskan bahwa aku positif mengidap tiroid, dan dokter menyarankan aku untuk berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam. Tetapi karena hari itu hari sabtu maka tidak banyak dokter yang membuka praktek, terlebih untuk dokter yang aku butuhkan. Setelah mencari di beberapa praktek dokter akhirnya aku menyerah, tidak ada satu praktek dokterpun yang buka. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja.
Sampai di rumah aku bertemu dengan sepupuku, dia bertanya sakit apa aku sebenarnya. Begitu mendengar aku mengidap tiroid dia langsung panik, aku yang sebelumnya biasa-biasa saja jadi ikut-ikutan panik setelah mendengar cerita dari sepupuku itu. Dia bercerita bahwa ada temannya yang juga menderita tiroid dan terlambat mendapatkan penanganan dari dokter. Awal mula memeriksakan diri ke dokter, temannya dinyatakan hanya keracunan ikan. Memang pada saat itu matanya sudah mulai membesar, tetapi yang aku herankan kenapa dokter tidak bisa membedakan antara keracunan ikan dan pembesaran pupil mata akibat tiroid, apakah memang tanda-tandanya sama? Atau….entahlah. Yang pasti sang dokter salah mendiagnosa. Dia baru tahu kalau dia sebenarnya menderita tiroid akut setelah mendapatkan penanganan dari dokter ahli di Penang. Bayangkan saja, berat badannya turun drastis, mata membesar (sudah seperti ikan mas koki-naudzubillahi min dzallik), cepat sekali lelah bahkan terakhir dia tidak bisa lagi beraktivitas (hanya terbaring di rumah). Masya Allah pikirku, sedemikian parahnya ternyata tiroid itu. Sempat waktu itu aku ngotot tidak mau diperiksa dengan dokter-dokter disini. Untuk apa jika nantinya aku hanya dijadikan sebagai kelinci percobaan. Tetapi akhirnya setelah berfikir dan mendapatkan masukan dari suami dan orang tuaku aku putuskan untuk menjalani pengobatan disini dahulu, toh aku memiliki kasus yang berbeda dengan teman sepupuku itu, aku tidak terlambat mendapatkan penanganan dari dokter, Semoga!
Senin sore, aku pergi ke praktek dokter penyakit dalam. Aku menyerahkan hasil uji lab ke dokter tersebut dan dokter sekali lagi memastikan bahwa aku memang mengidap penyakit tersebut. Dokter melakukan serangkaian tes, dan bahkan aku sempat dikonsulkan ke dokter spesialis jantung untuk melakukan tes EKG. hasilnya menunjukkan bahwa detak jantungku berada diatas normal.
Akhirnya Dokter menyarankan agar aku di rawat inap saja. Jika di rawat inap aku akan di periksa secara rutin setiap hari (EKG, tensi darah dan suhu tubuh) – tetapi tidak di infus-, begitu kira-kira kata sang Dokter. Aku berfikir kalau hanya untuk pemeriksaan seperti itu sepertinya aku tidak perlu sampai di rawat inap, lebih baik jika aku beristirahat di rumah saja. Setelah berargumen dengan sang Dokter akhirnya sang dokter menyerah dan ia menyarankan agar aku terus menkonsumsi obat propiltiourasil atau lebih dikenal dengan PTU -dipercaya sebagai obat yang ampuh untuk mengatasi hypertiroid- dan beristirahat. Aku harus terus mengkonsumsi obat tersebut sampai 6 bulan dan selanjutnya melakukan cek darah kembali. Hypertiroid ini tidak serta merta sembuh, penyakit ini membutuhkan proses yang lebih lama (minimal 6 bulan) baru bisa melakukan cek darah kembali (begitu penjelasan dokter). Dan akhirnya aku terus mengkonsumsi obat tersebut sampai enam bulan ke depan.
Lewat 6 bulan sudah dan aku kembali memeriksakan diriku ke dokter. Dokter menyarankan cek darah lagi dan hasilnya uji lab untuk T3 dan T4 ku sudah kembali normal. Alhamdulillah ya Allah, puji syukurku kepadaMu ya Rabb ku….. Aku dinyatakan sembuh dan baru-baru ini aku kembali memeriksakan mataku ke dokter dan hasilnya minus ku kembali turun menjadi minus dua, dan silindrisnya hilang total.
Just believing in your self, percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita and thanks to my lovely husband, family and friends who always beside me. Kurasa aku tak akan sekuat ini tanpa kalian semua yang mensupport diriku.
Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat kesehatan untuk kita semua, Caiyo friends..!